Di Kampung Wanasugra, Desa Tenjowaringin, Kabupaten Tasikmalaya, terdapat salah satu potensi kuliner tradisional yang masih terjaga hingga saat ini, yaitu produksi opak yang dikelola oleh Ibu Aisyah (61). Yang telah memproduksi selama puluhan tahun dan merupakan warisan turun-temurun dari orang tuanya.
Ibu Aisyah membuat opak hanya untuk kebutuhan konsumsi keluarga. Terutama dalam berbagai acara seperti hajatan pernikahan dan khitanan. Opak yang dibuat menggunakan bahan utama beras ketan, yang dicampur dengan bahan sederhana seperti garam dan gula. Meski bahan yang digunakan tergolong sederhana, proses pembuatannya membutuhkan ketelatenan dan pengalaman agar menghasilkan cita rasa yang khas.
Proses pembuatan dimulai dari merendam ketan selama satu malam, kemudian dikukus hingga matang. Setelah itu, ketan ditumbuk hingga halus dan diberi campuran garam serta gula. Adonan kemudian dicetak menjadi bentuk opak, lalu dijemur hingga kering. Proses penjemuran biasanya memakan waktu satu hari jika cuaca cerah, dan bisa mencapai dua hari jika cuaca kurang mendukung.
Dalam satu kali produksi, Ibu Aisyah mampu menghasilkan sekitar 1,5 kilogram opak. Produk yang dihasilkan pun beragam, mulai dari opak goreng hingga opak sangrai, yang memiliki cita rasa gurih dan tekstur renyah.
Pemasaran opak ini masih bersifat sederhana, biasanya berdasarkan pesanan untuk acara-acara tertentu di lingkungan sekitar. Meski demikian, opak buatan Ibu Aisyah tetap diminati karena kualitas rasa yang terjaga dan proses pembuatannya yang masih tradisional.
Keberadaan usaha opak ini tidak hanya menjadi sumber penghasilan tambahan, tetapi juga sebagai bentuk pelestarian kuliner tradisional yang mulai jarang ditemui. Dengan pengalaman yang panjang dan cita rasa khas, opak produksi Ibu Aisyah memiliki potensi untuk dikembangkan lebih luas sebagai produk unggulan desa.